Selasa, 22 Mei 2012

8 Bahan Makanan termahal di dunia

8 Bahan Makanan termahal di dunia :

Spoiler for 1.Yubari King Melon:


Sama seperti daging Kobe yang hanya diproduksi di kota Kobe, Jepang, melon Yubari King juga hanya dibuat oleh petani-petani di Yubari, Jepang. Ini adalah buah hasil persilangan dua jenis melon, menghasilkan melon kuning yang manis, besar, dan bentuknya proporsional. Melon Yubari King biasanya dijual sepasang, dengan harga Rp 450 ribu hingga hampir Rp 1 juta.



Spoiler for Jamur Truffle Putih:



Hingga saat ini belum ada orang yang berhasil menanam atau membudidayakan jamur truffle putih. Jamur ini hanya bisa didapatkan di hutan di Italia Utara pada bulan September dan Desember. Setengah kilogram jamur jenis ini dijual dengan harga paling murah Rp 27,5 juta.


Spoiler for Sarang Burung Walet:


Sarang yang dibuat dari air liur burung walet ini biasanya akan melebur di dalam sup kental yang tak hanya lezat tapi juga tinggi nutrisi. Bahan makanan ini mahal karena burung walet butuh waktu 2 bulan untuk membuatnya, dan tiap burung hanya membuat 2-3 sarang setiap tahun. Untuk mendapatkannya pun prosesnya tak mudah karena petani harus mengambilnya dari lekuk dan lorong-lorong gua yang sulit diraih. Sarang burung walet hanya bisa didapat di negara-negara di Asia Tenggara termasuk Indonesia, dan Cina yang sengaja membangun rumah burung raksasa untuk memelihara burung walet. Di pasaran internasional, harganya mencapa Rp 183 ribu untuk satu buah sarang.


Spoiler for Aceto Balsamico Tradizionale:


Cuka balsam adalah bahan masakan penting yang dipakai banyak koki. Namun cuka balsam tradisional yang hanya dibuat di Modena atu Reggio, Italia, ini hanya dipakai koki-koki papan atas di dunia karena harganya yang sangat mahal. Dibutuhkan anggur Trebbiano dalam jumlah yang sangat banyak untuk diolah dan difermentasikan selama 12-25 tahun sebelum akhirnya menghasilkan satu botol kecil cuka balsam tradisional ini. Harganya? Rp 1,8 juta untuk botol 100 ml.


Spoiler for Kopi Luwak:


Biji kopi yang banyak ditemukan di Indonesia ini menghasilkan kopi dengan rasa yang lebih halus dan tidak terlalu pahit. Ini karena biji kopinya sudah difermentasikan di dalam perut luwak sebelum dikeluarkan bersama kotoran. Harga kopi luwak di pasar internasional mencapai Rp 4,5 juta rupiah untuk 0,5 kilogram.


Spoiler for Jamón Ibérico de Bellota:


Jangan heran jika namanya seperti bahasa Spanyol, karena daging ini hanya bisa didapat di Spanyol. Jamón Ibérico de Bellota adalah daging kaki babi yang diawetkan. Bukan sembarang babi, tapi babi yang dibiarkan hidup bebas di hutan di bagian barat Spanyol yang kaya akan biji pohon ek, sehingga babi-babi ini hanya mengonsumsi biji ek, jamur liar, dan rerumputan. Bebas dari lemak. Setelah ditangkap, daging babi ini diawetkan selama 2 tahun sebelum akhirnya dijual ke pasaran dengan harga hampir Rp 800 ribu untuk 0,5 kilogram.


Spoiler for Saffron:


Saffron adalah rempah yang harganya memang mahal, namun saffron jenis "Coupe" adalah yang termahal. Saffron jenis ini dijual dengan harga termurah Rp 90 ribu per gram, dan bisa mencapai Rp 275 ribu untuk yang kualitas terbaik.


Spoiler for Kaviar Ikan Terubuk:


Kaviar alias telur ikan yang diasinkan memang dikenal sebagai makanan mahal. Namun kaviar yang diambil dari ikan terubuk (sturgeon fish) adalah yang paling mahal dengan harga lebih dari Rp 4,5 juta untuk satu porsi. Kaviar ini mahal karena ikan jenis osetra surgeon butuh waktu 10 tahun untuk menghasilkan telur. Ikan ini juga langka dan termasuk spesies yang dilindungi, sehingga nelayan harus berhati-hati saat menangkapnya dan mengambil telurnya.

Rabu, 16 Mei 2012

B

http://livebeta.kaskus.us/post/000000000000000692809038#post000000000000000692809038

===========
coba yang ini bit
http://kaskus.us/post/000000000000000692809038#post000000000000000692809038

Sabtu, 05 Mei 2012

Orang Indonesia mendirikan pabrik tempe di Jepang

Terlahir di kota kecil Grobogan, Jawa Tengah ternyata tidak menyurutkan semangat juang Rustono (43) untuk meraih mimpi besarnya. Siapa sangka bila seorang mantan bell boy Hotel Sahid Yogyakarta ini sekarang bisa sukses merintis usaha tempe di negeri sakura (Jepang) serta mendapatkan gelar khusus yakni The King of Tempe.

Meskipun bisnisnya kini telah berkembang dengan pesat, namun perjalanan suksesnya dalam membangun usaha tempe tidaklah semulus apa yang kita bayangkan. Setelah memutuskan untuk menuntut ilmu di Akademi Perhotelah Sahid pada tahun 1987, Ia kemudian merintis karirnya sebagai seorang bell boy di Hotel Sahid Yogyakarta hingga bertahun-tahun lamanya. Pengalaman inilah yang kemudian mempertemukan Rustono dengan seorang wanita asli Jepang bernama Tsuruko Kuzumoto, yang kini telah dipersunting sebagai istrinya.

Di tahun 1997, Rustono memutuskan untuk hijrah ke Kyoto, Jepang untuk melanjutkan hidup baru bersama istri tercintanya. Dari sinilah perjuangan Rustono mulai dirintis dari awal. Ia bekerja di beberapa perusahaan Jepang mulai dari perusahaan sayur-mayur higga perusahaan roti yang semuanya menuntut ketelitian dan tanggungjawab cukup besar dari para karyawannya. Rustono yang saat itu berprofesi sebagai seorang karyawan, mendapatkan banyak ilmu dari masyarakat di negeri matahari terbit tersebut, baik dari perilaku hidup sehari-hari maupun dari segi etos kerja para karyawan yang relatif cukup tinggi
   
Awal Merintis Usaha Tempe
Berbekal pengalaman dan pengetahuannya di beberapa sektor industri, hati kecil Rustono mulai terdorong untuk membuka peluang bisnis baru yang belum pernah ada sebelumnya di Negara Jepang. Terinspirasi dari makanan nato (sebangsa makanan dari kedelai yang rasanya sangat khas orang Jepang), ayah dari Noemi Kuzumoto ini mencoba menekuni sektor bisnis makanan dan membuat tempe dengan sedikit pengetahuan yang pernah Ia ketahui.

Proses trial and error Ia jalani kurang lebih selama empat bulan, bahkan Ia rela pulang ke Indonesia selama tiga bulan hanya untuk belajar membuat tempe yang lezat dari 60 pengrajin tempe di seluruh Pulau Jawa. Kuatnya tekad dan semangat Rustono untuk terus belajar memproduksi tempe, akhirnya membuahkah hasil manis sehingga Ia berhasil membuat tempe yang lezat dengan bantuan ragi dari Indonesia, dan memanfaatkan sumber mata air di sekitar kediaman mertuanya.

Setelah berhasil memproduksi tempe dengan sempurna, ternyata masih banyak kendala usaha yang dihadapi oleh Rustono. Salah satunya yaitu mengenai izin produksi di Negara Jepang yang cukup rumit (harus melalui berbagai tahap penelitian dan tes), serta kendala iklim alam yang kurang bersahabat karena memiliki kelembapan udara kurang dari 60%, sehingga proses fermentasi tempe tidak bisa berjalan maksimal tanpa bantuan peralatan khusus yang bisa menjaga kestabilan cuaca.

Semua kendala tersebut dijadikannya sebagai sebuah tantangan baru, hingga pada akhirnya Ia berhasil mengantongi perizinan dari pemerintah setempat dan memasarkan produk tempenya dengan merek Rusto Tempeh yang dilengkapi dengan ilustrasi gambar suasana kehidupan kampung di Pulau Jawa. Dengan memanfaatkan kemasan produk 200 gram, sekarang ini kapasitas produksi Rusto Tempeh bisa mencapai 16.000 bungkus setiap lima hari. Ia memasarkan produk tempenya hampir ke seluruh kota di Jepang, baik di perusahaan jasa boga, rumah makan vegetarian, toko swalayan, sekolah-sekolah, hingga ke beberapa rumah sakit di Fukuoka.

Kerja keras dan semangat juang Rustono di negeri sakura, kini telah terbayar dengan keberhasilan usaha tempe yang Ia rintis. Bila dulunya usaha tempe Rustono dijalankan di rumah kecilnya, kini suami Tsuruko Kuzumoto ini telah membangun pabrik tempe di kawasan pinggir hutan yang bermata air dan memanfaatkan lahan seluas 1.000 meter2. Semoga kisah pengusaha sukses dari Grobogan, Jawa Tengah ini memberikan manfaat bagi para pembaca dan menginspirasi seluruh lapisan masyarakat untuk segera memulai usaha. Maju terus UKM Indonesia dan salam sukses.



Spoiler for agan Rustono: